Cara Mengatasi Hama dan Penyakit pada Tanaman Durian

hama tanaman durian

Fear Factor, sebuah ajang uji nyali yang populer di Amerika Serikat, suatu ketika pernah menampilkan tantangan yang unik. Acara yang sempat ditayangkan di salah satu televisi nasional ini menantang pesertanya untuk menghabiskan makanan yang menjijikkan.

Di dalam salah satu episodenya, makanan menjijikkan yang disajikan bukanlah serangga ataupun ‘jeroan’ hewan sebagaimana biasanya, melainkan buah durian. Cukup aneh, bukan?

Sebagai orang Indonesia, melihat ekspresi jijik dari wajah peserta yang panik dan menutupi hidungnya nampak berlebihan, bahkan untuk orang Indonesia yang tak suka durian sekalipun.

Mungkin itu dikarenakan buah durian teramat populer di negeri ini, karenanya tak ada yang salah dengan aroma, tekstur, dan rasa buah durian .

Buah durian disukai di Indonesia

Ya, buah durian teramat disukai banyak orang Indonesia. Terlepas dari segala keunikannya, sebenarnya durian merupakan buah yang kaya nutrisi seperti karbohidrat, lemak, protein, dan mineral.

Tak heran pembudidayaan buah ini tersebar hampir di seluruh Indonesia, di antaranya meliputi pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat.

Karena tergolong tumbuhan tropis yang bisa tumbuh di dataran berketinggian hingga 800 meter dari permukaan laut, kontur dataran di Indonesia banyak yang memenuhi syarat. Namun, dengan terpenuhinya syarat tersebut bukan berarti pembudidayaan durian di Indonesia tak mengalami hambatan.

Selain faktor seperti cuaca ekstrim yang dapat menyebabkan gagal panen, terdapat ancaman hama dan penyakit yang dapat berpengaruh terhadap kualitas dan tampilan buah durian.

Para peneliti di Indonesia telah membuat daftar hama dan penyakit tanaman durian dilansir dalam jurnal berjudul ‘Durian. Petunjuk Budidaya dari PT. Pusri’ (2000),  serta tulisan Dalmadi (2009) berjudul ‘Kiat Membuat Durian Berbuah di Luar Musim’ dari Badan Litbang Pertanian, di antaranya sebagai berikut:

Hama tanaman durian

  • Penggerek buah (Jawa : Gala-gala)

Hama ini menyerang buah durian dengan cara meletakkan telur di kulit buah dan melindunginya dengan jaring-jaring mirip rumah laba-laba.

Larva yang telah menetas dari telur akan langsung menggerek dan melubangi dinding-dinding buah hingga masuk ke dalam. Larva tersebut tinggal dalam buah sampai menjadi dewasa, menyebabkan buah yang terserang kadang-kadang sampai terjatuh sebelum tua.

Serangga penggerek buah menyebar dengan cara terbang dari pohon durian yang satu ke pohon lainnya. Serangga ini bertelur pada buah durian yang dihinggapinya secara periodik setiap menjelang musim kemarau.

Pengendalian: untuk mengatasi hama penggerek buah dapat dilakukan dengan insektisida, seperti Basudin, Sumithion 50 AC, Thiodan 35 EC, dengan dosis 2-3 cc/liter air.

  • Ulat penggerek bunga (Prays citry)

Ulat penggerek bunga akan menyerang tanaman yang baru berbunga, terutama pada bagian kuncup bunga durian dan calon buah.

Pada umumnya ulat ini memiliki tubuh berwarna hijau dengan kepala merah coklat. Warna ini akan berubah menjadi merah sawo kecoklatan dan abu-abu setelah menjadi kupu-kupu. Ulat ini bertubuh langsing.

Gejala durian yang terserang hama ini adalah kuncup bunganya rusak dan putik banyak yang berguguran. Benang sari dan tajuk bunga pun rusak semua, sedangkan kuncup dan putik patah akibat digerek ulat.

Tanaman lain dapat tertular hama ini melalui perantara kupu-kupu hama tersebut.

Pengendalian: untuk mengatasi ulat penggerek bunga dapat dilakukan dengan menyemprotkan obat-obatan seperti Supracide 40 EC, nuvacrom SWC, Perfekthion 400 EC (Eimetoat 400 gram/liter).

  • Ulat penggerek batang (Xyleutes leucantus don Zeuzera caffiae)

Serangan ditandai dengan menumpuknya kotoran di bawah batang hingga keluar air dengan kotoran berwarna merah mengakibatkan tanaman yang terserang akan layu dan mati.

Pengendalian: Hama ulat penggerek batang pada umumnya dapat dibasmi dengan cara mekanis/ kultur teknis. Batang tanaman yang terserang dipotong 5 cm kemudian dimusnahkan. Bisa juga dilakukan dengan memasukkan kawat ke dalam lubang dengan harapan ulat terkena dan mati.

Sedangkan cara kimiawi dilakukan penyemprotan dengan insektisida berbahan aktif Tamaron 0,3 % dan Diazinon 0,5 % yang disemprotkan sesuai dosis. Dan banyak lagi hama pada tanaman durian yang perlu diwaspadai.

  • Kutu loncat durian

Hama ini merupakan serangga berwarna kecoklatan dan tubuhnya diselimuti benang-benang lilin putih hasil sekresi tubuhnya; bentuk tubuh, sayap dan tungkainya mirip kutu loncat yang menyerang tanaman lamtoro.

Kutu loncat bergerombol menyerang pucuk daun yang masih muda dan menghisap cairan pada tulang-tulang daun hingga daun-daun menjadi kerdil akibat pertumbuhannya terhambat.

Setelah menghisap cairan, kutu ini mengeluarkan cairan getah bening yang pekat dan manis secara merata ke seluruh permukaan daun sehingga mengundang semut-semut bergerombol.

Pengendalian: daun dan ranting-ranting yang terserang dipangkas untuk dimusnahkan. Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida Supracide 40 EC dosis 100-150 gram/5 liter air.

  • Lalat buah (dacus dorsalis)

Gejala tanaman durian yang terserang hama ini adalah buahnya menjadi busuk, berulat, dan akhirnya rontok. Lalat betina berujung perut runcing mirip lebah menaruh telur dengan cara menyuntikkan ke bagian dalam buah, dan saat telur menetas, ia berubah menjadi ulat yang menyantap daging buah.

Pengendalian: bisa menggunakan cara kultur teknis yaitu sanitasi lingkungan dengan pengumpulan buah yang terserang, baik yang terjatuh maupun yang masih di pohon untuk kemudian dimusnahkan.

Pengendalian dengan tanaman perangkap juga bisa dilakukan yaitu dengan menanam selasih di sekeliling kebun. Bisa juga dilakukan dengan pengasapan tidak sampai terbakar ke seluruh bagian tanaman.

Bila menggunakan pengendalian mekanik dilakukan dengan perangkap atraktan (metil eugenol, protein hidrolisa, atau selasih) dalam alat perangkap yang terbuat dari botol bekas air minum yang diberi lubang untuk masuknya lalat buah.

Penyakit tanaman durian

  • Penyakit Busuk Akar (Pythium vxans.)

Gejala penyakit ini yakni terdapat bercak nekrotik pada akar lateral. dimulai dari ujung akar hingga tanaman layu dan mati.

Jika dibelah, pada bagian korteks akan tampak warna coklat dan pada bagian yang berkayu akan tampak warna merah muda dengan bercak coklat.

Pengendalian: tanaman yang terserang dimusnahkan dan dibakar.

  • Kanker bercak

Penyakit ini disebabkan Pythium palvimora, yang menyerang bagian kulit batang dan kayu. Penyebaran terjadi melalui spora sembara bersamaan dengan butir-butir tanah atau bahan organik yang tersangkut air.

Penyebaran penyakit ini dipacu oleh curah hujan yang tinggi dalam cuaca kering. Jamur dapat tumbuh dengan baik pada suhu antara 12-35 derajat C.

Gejala penyakit ini adalah kulit batang durian yang terserang mengeluarkan blendok (gum) yang gelap; jaringan kulit berubah merah kelam, coklat tua atau hitam; bagian yang sakit dapat meluas ke dalam sampai ke kayu; daun-daun rontok dan ranting-ranting muda dari ujung mulai mati.

Pengendalian: (1) perbaikan drainase agar air hujan tidak mengalir dipermukaan tanah dan untuk batang yang sakit; (2) potong kulit yang sakit sampai ke kayunya yang sehat dan potongan tanaman yang sakit harus dibakar, sedangkan bagian yang terluka diolesi fungisida, misalnya difolatan 4 F 3%.

  • Phytopthora parasitica dan Pythium complectens

Penyakit ini disebabkan Pythium complectens, yang menyerang bagian tanaman seperti daun, akar, dan percabangan.

Ia menulari dengan cepat pohon lain yang berdekatan bersama-sama dengan larutnya tanah atau bahan organik yang terangkut air bila ada akar yang terluka.

Gejalanya adalah daun durian yang terserang menguning dan gugur mulai dari daun yang tua, cabang pohon kelihatan sakit dan ujung-ujungnya mati, diikuti dengan berkembangnya tunas-tunas dari cabang di bawahnya. Kulit di atas permukaan tanah menjadi coklat dan membusuk.

Pembusukan pada akar hanya terbatas pada akar-akar sebelah bawah, tetapi dapat meluas dari ujung akar lateral sampai ke akar tunggang. Jika dilihat dari luar akar yang sakit tampak normal, tetapi jaringan kulitnya menjadi colat tua dan jaringan pembuluh menjadi merah jambu.

Pengendalian: (1) upayakan drainase yang baik agar tanah tidak terlalu basah dan air tidak mengalir ke permukaan tanah pada waktu hujan; (2) pohon yang sakit dibongkar sampai ke akarnya dan dibakar; (3) pilih bibit durian kerikil untuk batang bawah karena jenis ini lebioh tahan terhadap serangan jamur sehingga dapat terhindar dari serangan penyakit busuk.

  • Jamur upas

Tanaman durian yang terserang pada cabang-cabang dan kulit kayu terdapat benang-benang jamur mengkilat seperti sarang laba-laba.

Jamur ini berkembang menjadi kerak berwarna merah jambu dan masuk ke dalam kulit dan kayu sehingga menyebabkan matinya cabang.

Pengendalian: (1) serangan jamur yang masih pada tingkat sarang laba-laba dapat dikendalikan dengan cara melumasi cabang yang terserang degan fungisida, misalnya calizin RM; (2) jika jamur sudah membentuk kerak merah jambu, sebaiknya dilakukan pemotongan cabang kira-kira lebih 30 cm ke bawah bagian yang berjamur; (3) dengan menyemprotkanAntrocol 70 WP (propineb 70,5%), dosis 100-200 gram/liter air atau 1-1,5 kg/ha aplikasi.

***

Demikian berbagai jenis hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman durian. Diharapkan akan semakin banyak penelitian serupa dan dengan semakin populernya budidaya organik akan ditemukan cara untuk membasmi hama dan penyakit dengan cara yang minim bahan-bahan kimiawi. Semoga bermanfaat.

(foto: Crazyacey – Flickr)

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *