4 Prinsip Mengajarkan Keuangan kepada Anak

anak belajar keuanganAdalah hal yang tepat untuk mulai memperhatikan masalah pengeluaran dan keuangan anak, kata Manisha Thakor, pakar investasi LearnVest, seperti yang Anda lakukan pada subjek lainnya.

“Jika Anda melihat anak Anda atau keponakan makan 10 cupcakes sekali duduk, atau bermalas-malasan di sofa sepanjang hari dan sama sekali tidak melakukan gerak dan be olahraga-Anda tidak akan berpikir dua kali tentang mengatakan sesuatu,” sarannya. “Sama halnya dengan keuangan pribadi. Kita tidak bisa berharap untuk memiliki anak yang sehat secara finansial jika kita tidak aktif mengajarkan mereka perilaku keuangan yang baik. ”

Manisha Thakor merekomendasikan orang dewasa membuat garis pedoman untuk belanja, menabung, dan menyumbang untuk amal.

Loading...

Ajarkan anak untuk menghabiskan, menabung dan memberi

Orang tua, dengan bantuan dari anak-anak mereka, dapat mengatur jumlah dolar atau persentase yang dialokasikan anak-anak terhadap setiap tujuan yang disebutkan sebelumnya. Sebagai contoh, sebuah aturan bisa dibuat agar menyumbangkan 10%, menabung sejumlah 20% dan memiliki sisa 70% untuk dibelanjakan.

Yang penting adalah bahwa anak-anak mengenal gagasan bahwa tidak setiap sen yang diperoleh bisa dihabiskan. Dan memperoleh kebiasaan untuk ‘membayar diri mereka sendiri terlebih dahulu ‘ adalah kebiasaan yang akan melayani mereka dengan baik seumur hidup. Bahkan telah ada celengan dengan banyak bilik dirancang untuk tujuan ini. Atau, dengan $ 30 per tahun, Anda dapat secara otomatis mengalokasikan penyisihan uang dengan tujuan yang berbeda menggunakan Threejars.com.

READ:  Cara Mengatasi Kecanduan Game pada Anak

Kesalahan itu wajar

Kebanyakan ahli mengatakan normal-normal saja-dan sehat- bagi anak-anak untuk membuat kesalahan dalam hal keuangan. “Mereka harus diperbolehkan untuk membuat kesalahan dalam pengeluaran mereka,” kata Dr Mary Gresham, psikologi keahlian keuangan LearnVest.

Setelah beberapa minggu, tanyakan keponakan Anda jika dia senang dengan pembeliannya, atau jika sebagian besar dari mereka salah, ataukah barang-barang yang mereka beli telah robek atau rusak hingga tak berbentuk. Jika dia masih bernafsu ingin banyak berbelanja tanyakan “Apa yang akan Anda lakukan secara berbeda lain kali?”, saran Gresham.

Nathan Dungan, yang bekerja dengan anak-anak dan orang tua pada masalah seperti ini sebagai pendiri Sharesavespend.com, akan bertindak jika anak secara rutin membuat kesalahan yang sama. “Namun, bukannya berlaku ‘menguliahi’, libatkan anak atau keponakan Anda dalam percakapan tentang pilihan yang ia membuat dan yang lebih penting, mengapa ia membuat pilihan-pilihan tersebut dan apa dampaknya terhadap kemampuannya menabung.”

Ingat: Andalah yang membuat aturan

Tergolong sulit untuk meyakinkan anak, terutama yang punya beberapa keinginan, bahwa menabung itu bermanfaat. Apa insentifnya jika ia menginginkan boneka sementara sang Nenek bersedia memenuhi daftar keinginannya selama liburan?  Jika seorang anak cenderung menghambur-hamburkan uang, Anda juga berhak untuk berlaku tegas.

READ:  Couvade Syndrome, Gejala Kehamilan pada Calon Ayah

“Orang tua memiliki hak veto terhadap setiap pilihan belanja yang dibuat anak mereka,” kata Dungan, “terutama jika pola pengeluaran yang muncul itu hanya sekitar ‘menghilangkan gatal’ dari kepuasan segera. ”

***

Demikian 4 prinsip mengajarkan keuangan kepada anak, bagaimana dengan Anda? Apa yang Anda lakukan dalam mengajarkan anak masalah keuangan? Jangan sungkan untuk berkomentar.

(foto: canoe.ca )