Mengenali Penyembuhan Depresi dan Sisa Gejalanya

Penyembuhan Depresi Banyak pasien dengan gangguan depresi mayor (MDD) merespon dengan baik perawatan awal dengan obat anti depresan. Namun, kurang dari sepertiga pasien tidak berhasil.

Depresi terus meningkat sehingga terjadi peningkatan resiko gangguan fungsional dan interpersonal. Artinya, depresi meningkat secara berulang-ulang.

Definisi “Membaik”

Ketika penderita depresi memulai pengobatan, tujuan pertama adalah pengurangan gejala yang dijadikan sebagai ukuran standar kebanyak dokter dan peneliti untuk mengelompokkan pasien yang respon pada obat atau kondisinya menjadi lebih baik.

Namun, bukan berarti gejalanya akan hilang segera, beberapa pasien dilaporkan masih memderita beberapa gejala tertentu.

Bagi setiap orang, definisi membaik bisa berbeda. Meskipun Anda masih merasakan gejala kecemasan atau kelelahan berkepanjangan, Anda mungkin sudah lebih baik karena pengobatan Anda telah meningkatkan rasa optimis dan percaya diri.

Sisa-sisa gejala ini disebut dengan gejala sisa. 12-18 persen pasien dengan depresi mengalami pengurangan gejala sebagai akibat dari pengobatan.

Gejala sisa yang umum meliputi: rasa bersalah, insomnia, kegelisahan, kehilangan minat, kelelahan, penurunan libido dan perasaan tidak ingin melakukan sesuatu.

READ:  Pilih Mandi Air Dingin Atau Air Hangat?

Gejala fisik sisa yang paling umum adalah sakit punggung, sakit otot, nyeri sendi, dan sakit perut. Sementara gejala umum gangguan kognitif, yakni kesulitan mengingat tempat, orang dan kejadian serta pola pikir negatif meningkat.

Jika Anda memiliki salah satu gejala sisa depresi bahkan saat Anda sedang menjalani perawatan, Anda tidak boleh mengabaikannya. Karena gejala sisa ini bisa menjadi salah satu tanda kekambuhan.

Gejala Sisa yang Paling Umum

1. Insomnia

Pasien yang mengalami insomnia sebagai sisa gejala depresi juga biasanya disertai dengan berkelakuan buruk juga. itu mungkin karena insomnia menyebabkan banyak efek sekunder pada kesehatan yang mempersulit pengobatan depresi.

Insomnia juga meningkatkan resiko seseorang melakukan bunuh diri. Seringkali, pasien tidak mengakui insomnia sehingga dokter meminta pasien untuk menjalani tes EEG untuk menemukan insomnia yang tidak diakui.

2. Kecemasan

Pasien dengan kecemasan yang tidak ditangani berada pada resiko tinggi kekambuhan depresi. Kecemasan dapat membuat depresi kambuh lebih cepat. Dan pasien dengan rasa cemas juga memerlukan waktu yang lebih lama untuk merespon pengobatan.

READ:  5 Makanan yang Buruk bagi Penderita Migrain

Jika kecemasan tidak berhenti meskipun sudah diobati, maka bisa jadi itu bukan gejala depresi tapi penyakit lain yang disebut dengan gangguan kecemasan.

3. Minat menurun

Banyak pasien dengan sisa gejala depresi mengalami penurunan minat dalam pekerjaan, hubungan dan kepentingan pribadi.

Secara khusus, kurangnya minat dapat memiliki pengaruh yang sangat buruk di tempat kerja, di mana pasien dengan gejala yang belum terselesaikan mengalami produktivitas yang lebih rendah, absensi yang buruk, kepuasan kerja rendah dan sulit bergaul dengan rekan kerja.

Dampak Gejala Sisa Depresi Bagi Kesehatan

Depresi dapat meningkatkan resiko seseorang terkena serangan jantung dan stroke. Selain itu, pasien yang memiliki sisa gejala depresi (Residual Symptoms) cenderung memiliki masalah kesehatan tambahan yang meningkatkan ketergantungan mereka pada pelayanan kesehatan, obat-obatan dan perawatan medis.

Peneliti dan dokter belum sepenuhnya memahami mengapa beberapa orang terus saja mengalami gejala sisa depresi, tapi yang lainnya tidak.

Namun, penelitian menunjukkan variabel penyebab umum yang dapat membantu dokter memprediksi pasien yang paling mungkin untuk memiliki kekambuhan dengan memperhatikan:

  • – keparahan gejala awal
  • – disertai dysthymia
  • – stres yang sedang berlangsung
  • – penyakit medis tambahan
  • – status sosial ekonomi yang rendah
  • – dukungan sosial yang buruk