Cara Efektif Mengatasi Panas pada Bayi setelah Imunisasi

mengatasi bayi demamPanik, adalah hal pertama yang sering terjadi saat anak sakit. Sesuatu yang wajar, namun jika kepanikan tidak segera dikendalikan, tentu bisa membuahkan tindakan yang berakibat buruk pada si kecil. Terlebih kalau anak kita masih di bawah 6 bulan.

Salah satu hal yang sering terjadi pada bayi adalah demam. Merasa bayi suhu tubuhnya lebih hangat dari biasanya, orang tua langsung bingung dan panik.

Padahal demam yang dialami si kecil bisa jadi jenis demam sebagai tahap alamiah untuk mendorong sistem imunnya. Kelak di usia 7 tahunan anak sudah mulai jarang sakit karena sistem imunnya sudah kuat.

Biasanya setelah diimunisasi dokter akan memberikan obat penurun demam seperti parasetamol atau pamol, namun ada beberapa hal lain yang dapat membantu mengatasi demam setelah diimunisasi :

1. Berikan ASI sesering mungkin pada bayi

Biasanya bayi yang demam akan lebih tenang saat disusui. ASI memiliki zat – zat antimikroba dan antiradang sehingga efek demam berkurang.

Selain itu, ternyata proses menyusui membuat bayi merasa nyaman dan tenang karena berada dalam pelukan atau dekapan sang ibu, dan rasa nyaman inilah yang membuat zat – zat antinyeri dalam tubuh bayi meningkat.

READ:  Kurang Tidur Akibat Stres? Ini Solusinya

2. Kompres bayi dengan air hangat bukan air es

Mengompres dengan air es bisa membuat bayi menggigil dan perubahan suhu yang drastis dapat memicu stuip / step atau kejang – kejang pada bayi.

3. Gunakan pakaian longgar dan tipis

Hal ini dilakukan agar suhu panas pada badan bayi dapat menguap keluar. jangan dibedong atau diberi selimut tebal.

4. Selalu periksa suhu tubuh bayi dengan menggunakan termometer

Pastikan termometer yang digunakan adalah termometer digital , selain murah dan mudah didapat, termometer digital adalah cara paling akurat untuk mengukur suhu. Sedangkan termometer raksa mengandung merkuri yang berbahaya saat terkena tubuh, bila pecah.

Bila yang ada hanya termometer raksa, pastikan untuk hati – hati saat menggoyang – goyang termometer gelas sebelum digunakan.

**

Beberapa hal yang perlu diketahui orangtua mengenai demam adalah demam bukanlah penyakit utama, kondisi ini merupakan reaksi tubuh alamiah terhadap suatu penyakit.

Demam bisa pertanda tubuh sedang melawan infeksi karena suhu yang tinggi tersebut memperlambat pertumbuhan bakteri ataupun virus. Oleh karena itu usaha mengatasi demam yang salah bisa memperpanjang masa sakit.

READ:  Waspadai Tanda-Tanda dan Gejala Mata Malas Pada Anak

Hal ini berbeda dengan pendapat orangtua sebelumnya bahwa demam bisa memperburuk suatu kondisi penyakit ataupun berdampak buruk secara umum terhadap anak mereka.

Banyak orangtua juga mencemaskan kejang demam. Obat penurun panas tidak terbukti dapat mencegah terjadinya kejang demam. Kejang (jika terjadi) biasanya disebabkan oleh kenaikan suhu tubuh yang pesat di tahap awal infeksi, seringkali sebelum para orangtua menyadari anaknya terkena demam.

Saat demam biarkan anak tersebut istirahat. Walaupun anda berharap ia minum obat, tunggu saja saat ia terbangun meskipun jadwal pemberian obat penurun panas sudah berlalu. Hati – hati saat memberi obat. Pastikan dosisnya sesuai aturan di kemasan.

Jika anda memberi obat penurun panas golongan acetaminophen ataupun ibuprofen, pastikan anda tidak memberi obat batuk atau flu yang mengandung antipyretic. Pemberian dua jenis obat tersebut. secara bersamaan dapat menimbulkan overdosis.

Hingga bayi berusia 4 bulan, jika ia demam hingga 38,5 derajat celcius, orangtua harus segera menghubungi dokter anak. Meskipun begitu, usahakan tidak hanya berfokus pada angka – angka di termometer.

READ:  Gejala dan Penanganan Batuk Rejan Pada Anak

Yang paling utama, obat penurun panas sebaiknya digunakan sebagai bantuan untuk membuat anak merasa nyaman. Jika walaupun demam anak terlihat tenang dan tidak rewel, anda tidak harus memberinya obat penurun panas.