Yuk Cermati Peta Warna Tubuh Saat Merespon Emosi

Saat seseorang merasakan kesedihan, dadanya terasa sesak, sementara bagi orang yang depresi, kehampaan nyaris meliputi sekujur tubuh. Kira-kira begitulah gambaran yang dirasakan pada umumnya.

Sekarang, timbul pertanyaan, benarkah sensasi ini benar-benar dialami secara fisiologis oleh tubuh manusia? Atau kah hanya sekedar perasaan semata?

Sebuah studi di Finlandia baru-baru ini mempublikasikan hasil temuannya dalam jurnal Proceedings of National Academy of Sciences yang disebut peta emosi badan,  – disebut juga sebagai “Atlas Tubuh” (body atlas) – sebagaimana dikutip dari Fast Company, Rabu (07/01/14).

Loading...

Peta Warna Tubuh Saat Merespon Emosi

“Persepsi dari perubahan tubuh yang terpicu emosi bisa menjadi kunci dalam membangkitkan secara sadar emosi yang dirasakan.” Demikian ujar para peneliti.

Penggunaan model komputer berbentuk siluet manusia

Emosi sering dirasakan dalam tubuh, dan respon dari somatosensor – sistem indera yang mengatur persepsi sadar atas sentuhan, tekanan, nyeri, suhu, posisi, gerakan, dan getaran – diduga menjadi pemicu pengalaman emosi yang disadari. Pada jurnal temuan studi di Finlandia tersebut, digambarkan peta sensasi pada tubuh, dengan beragam emosi dengan metode laporan pribadi menggunakan topografi yang unik.

READ:  Mengapa Istirahat Baik untuk Otak?

Sebanyak 701 partisipan penelitian mendapat pertanyaan mengenai apa yang mereka rasakan setelah ditunjukkan beragam materi berunsur emosi. Mereka ditunjuki kata-kata, cerita, film, serta beragam ekspresi, kemudian diminta mewarnai siluet manusia pada model komputer di bagian-bagian tubuh yang dirasa mengalami peningkatan atau penurunan aktivitas.

Jika sensasinya terasa intens, peserta akan mewarnai bagian tubuh tertentu dengan warna merah. Untuk bagian yang terasa hampa atau nyaris tak terasa akan ditandai dengan warna biru.

Hasil respons yang universal

Partisipan yang menjadi subjek penelitian terdiri dari orang-orang Finlandia, Swedia, serta Taiwan, grup dengan latar belakang yang benar-benar berbeda. Dan uniknya, hasil pemetaan emosi yang dilakukan oleh grup partisipan ini memiliki kesamaan. Hal ini menunjukkan bahwa sensasi yang dirasakan tidak terbatas pada orang dengan bahasa tertentu.

Sebagaimana dilansir The Atlantic, Senin (30/12/13),  peserta menggambarkan kemarahan sebagai emosi yang intens terasa di kepala, kebahagiaan sebagai sensasi yang terasa di seluruh tubuh, sedangkan depresi tergambarkan dengan warna biru sebagai tanda sedikitnya sensasi di anggota badan.

READ:  Inilah Dampak Sering Marah Bagi Kesehatan

Reaksi tubuh yang dirasakan subjek penelitian sebagai respon terhadap emosi yang muncul

Kebanyakan emosi memicu perubahan di area kepala, menunjukkan waktunya untuk tersenyum, mengerutkan dahi, sampai perubahan temperatur kulit, sementara perasaan seperti senang juga marah melekat di anggota badan – mungkin karena reaksi siap memeluk sampai menghantam lawan bicara yang bersangkutan.

Selain itu, “sensasi dalam sistem pencernaan dan sekitar wilayah tenggorokan banyak ditemukan pada rasa jijik,” tulis sang peneliti.

Potensi pemanfaatan atlas tubuh

Patut dicatat bahwa sensasi tubuh yang dimaksud dalam penelitian ini bukanlah aliran darah, panas, atau hal lainnya yang dapat diukur secara objektif – sensasi tersebut sepenuhnya didasarkan pada perasaan tertusuk yang menurut subjek telah mereka alami.

Meski begitu, pemahaman yang lebih baik terkait sensasi tubuh terhadap emosi dapat membantu dokter dalam memberikan perawatan yang lebih baik terhadap gangguan keadaan jiwa seperti depresi dan kecemasan, atau bahkan menemukan cara yang lebih baik dalam mendiagnosa atau mendeteksi problema tersebut.

READ:  Kebiasaan Nonton TV Anak Meniru Orangtua

(foto: theverge.com)