Loading...

6 Kesalahan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak Usia Sekolah

Penulis: Shadiq Khairi Rubrik: Keluarga

Jika Anda punya anak di usia sekolah dasar, Anda memiliki pekerjaan yang penuh tanggung jawab ketika Anda mencoba mendorong pola hidup sehat dan membantu mereka mengembangkan citra diri yang positif.

Tambahkan tanda-tanda pertama pubertas dan beberapa gesekan sosial dan emosional sepanjang perjalanannya, dan sangat mudah melihat bahwa beberapa kesalahan dalam pola asuh mungkin saja terjadi, bahkan tak terhindarkan.

Kesalahan Pola Asuh Orang Tua

Loading...

Bagaimana Anda tahu jika telah membuat kesalahan besar dengan anak usia sekolah dasar? Ini bukanlah pertanyaan tanpa harapan. Berbekal keteguhan dan beberapa strategi cerdas, Anda mungkin dapat menghindari beberapa kesalahan besar.

Berikut 6 kesalahan pola asuh sebagaimana diulas dalam WebMD, serta cara memperbaikinya:

1 . Menyangkal Bahwa Anak Anda Kegemukan

Joyce Lee, ahli endokrinologi anak di University of Michigan’s Mott Children’s Hospital, mengatakan bahwa ketika berhadapan dengan anak kelebihan berat badan atau obesitas, “banyak orang tua mengatakan sang anak akan tumbuh terbebas dari itu. Orang tua mungkin mengatakan dia hanya bertulang besar atau memiliki tipe tubuh yang berbeda.”

Tapi ini adalah kesalahan besar, ujar Lee. Ada banyak perubahan fisik yang terjadi selama tahun-tahun sekolah dasar, termasuk pubertas. Tapi banyak anak-anak tidak “tumbuh terbebas dari itu.” ujar Lee, “Jangan lengah. Sekarang adalah waktunya memperkenalkan dan mendorong aktivitas fisik serta pola makan yang sehat. Kebiasaan yang baik dimulai saat muda, dan begitu pula kebiasaan yang buruk.”

Banyak orang tua berpikir tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes merupakan masalah kesehatan untuk orang tua. Tapi ini merupakan kesalahpahaman dan hal ini tentunya tak benar karena meningkatnya obesitas pada anak.

Kondisi seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes tipe 2 sekarang muncul pada anak-anak karena kegemukan. “Ada kesadaran yang lebih besar akan masalah obesitas pada anak,” kata Lee , “tapi di saat yang sama, banyak orang tua mungkin tak menyadari bahwa usia muda tidaklah terlalu muda untuk mengalami perkembangan komplikasi terkait dengan hal tersebut.”

Jika anak Anda kelebihan berat badan, perhatikan kata-kata Anda. Jangan terpaku pada ukuran atau mempermalukan anak.

“Ini bukanlah soal angka pada timbangan atau bagaimana Anda terlihat, ini soal kesehatan,” kata psikolog National Medical Center,  Eleanor Mackey.

Beth Volin, kepala klinik perawatan primer anak di Rush University Medical Center, Chicago, setuju akan hal tersebut. ” Ini adalah usia di mana praremaja menjadi sangat sadar akan tubuh, dan ada banyak hal di media soal menjadi super kurus,” kata Volin. “Bukanlah hal tak biasa bagi dokter anak untuk mulai melihat gangguan makan pada anak di kelas lima dan enam.”

Janganlah juga memojokkan seorang anak, kata Mackey. “Katakanlah, ‘Kami ingin seluruh keluarga ini sehat sehingga kita semua akan mencoba makan lebih baik dan lebih aktif.’ “

Sekali lagi, anak-anak belajar melalui contoh, jadi bila anggota keluarga atau orang tua juga obesitas, tidak makan sehat, atau tak aktif, anak Anda tak akan belajar perilaku sehat.

2 . Tak Menjaga Perkataan (dan Cara Mengatakannya)

“Sering kali, orang tua berpikir bahwa mereka tengah membantu dan malah tampil mengganggu atau penuh kritik,” kata Mackey.

Apa yang harus Anda katakan dan bagaimana seharusnya Anda mengatakan hal itu?

Pujilah saat anak usia sekolah Anda melakukan sesuatu yang besar, seperti mencoba olahraga baru.” Katakanlah , ‘Aku bangga padamu karena telah keluar dan mencoba aktivitas baru,’ ” kata Mackey.

Dia juga mengatakan jangan memuji anak Anda kecuali Anda benar-benar bermaksud demikian. “Anda tak bisa benar-benar berlebihan memuji seorang anak, tapi terdapat bahaya ketidaktulusan jika Anda melakukannya sepanjang waktu. Termasuk hal yang membantu untuk lebih spesifik dalam pujian Anda,” katanya.

” Katakanlah, ‘Terima kasih banyak sudah membereskan kamarmu. Itu membuat saya merasa sangat bangga padamu karena begitu bertanggung jawab.” Kenali apa itu dan beritahu mereka bagaimana perasaan Anda karena itu.”

3 . Tidak Mempraktekkan Apa yang Anda Katakan

Mackey mengatakan, “Cara tercepat membuat seorang anak tak mendengarkan Anda adalah perkataan yang tak sesuai tindakan. Evaluasi diri sendiri dan pastikan Anda adalah panutan yang baik dan apa yang Anda lakukan adalah apa yang Anda inginkan untuk dilakukan anak.”

Hal ini mencakup setiap aspek gaya hidup Anda – dari apakah Anda merokok, minum, atau menggunakan obat lain, bagaimana Anda menangani stres, dan bagaimana Anda memperlakukan orang lain dalam keluarga dan di masyarakat.

4 . Menunggu Terlalu Lama Membicarakan Pubertas

” Pubertas terjadi sedini usia sembilan tahun, dan tergolongr penting untuk membicarakan soal perubahan tubuh sehingga anak-anak Anda tahu apa yang terjadi selanjutnya, ” kata dokter anak dari Children’s Nasional Medical Center, Yolandra Hancock. “Beberapa orang tua ragu-ragu memulai percakapan ini selama rentang usia tersebut,” katanya.

Volin setuju: “Pada anak perempuan, kita melihat usia periode pertama merangkak semakin awal dari sebelumnya. Jadi usia 10 dan 11 benar-benar waktu yang ideal untuk duduk dengan putra dan putri serta memulai percakapan tentang pubertas dan perubahan tubuh.”

Dengan anak perempuan, ini mungkin berarti berbicara tentang menstruasi, rambut ketiak, dan tunas payudara. Pada anak laki-laki, itu dapat berarti berbicara tentang rambut pada kemaluan serta perubahan suara.

“Ini merupakan percakapan yang sulit dimulai, dan beberapa orang tua menganggap bahwa sekolah akan mengadakan kelas pendidikan kesehatan pada masa pubertas sehingga mereka tak perlu membahasnya,” kata Volin. “Itu adalah kesalahan yang sangat besar.”

5 . Melewatkan Tanda Bahaya Bullying

Bullying, penganiayaan fisik dan/atau emosional yang dilakukan anak sebaya, dapat terjadi di sekolah dasar.

“Kita melihatnya dalam konteks anak-anak yang pulang dengan sakit dan nyeri yang samar-samar adalah karena stres,” kata Volin. “Sebagian besar waktu [dokter] memeriksanya dalam keadaan normal, dan kami dapat menjamin orangtua bahwa anak mereka dalam keadaan baik dan berbicara tentang hal lain apa yang mungkin terjadi di sekolah atau di rumah.”

Tanda lain bahwa bullying mungkin menjadi masalah adalah anak yang suka sekolah tiba-tiba menolak pergi ke sekolah.

Jika Anda menduga terjadi bullying, perlakukan dengan serius dan bicarakan dengan pihak sekolah. Berbicara dengan guru anak Anda juga dapat membantu Anda mengetahui jika ada hal lain yang terjadi.

Volin mengatakan, “Hal itu merupakan batas halus karena Anda tentu tak mau anak Anda diganggu lebih jauh, tapi orang dewasa harus menyadari apa yang sedang terjadi.”

Bullying juga bisa terjadi di internet, dengan media sosial, atau bahkan melalui SMS.

“Orang tua mesti memantau jejaring sosial praremaja,” kata Volin. “Pastikan komputer berada di ruang keluarga di mana orang tua dapat memantau apa yang terjadi dengan Facebook, Twitter, atau ruang chatting apapun yang dimasuki anak.”

Kunci pengaman juga dapat ditempatkan dalam aplikasi, dan penting untuk memiliki komunikasi terbuka dengan anak Anda tentang media sosial.

6 . Jadwal Berlebihan Untuk Anak

Ini mungkin menggoda untuk mendaftarkan anak Anda pada kegiatan ini dan itu, tapi penjadwalan berlebihan pada anak-anak dapat mempengaruhi kinerja akademis mereka.

Sebagai contoh, “Kelas lima dan enam memasuki sekolah menengah dan kekakuan akademis benar-benar meningkat,” kata Volin.” Mereka pergi dari guru wali kelas tunggal menuju kelas demi kelas dengan banyak guru serta banyak pekerjaan rumah dan tuntutan,” katanya.

Gariskan keseimbangan sehingga mereka memenuhi harapan akademik dan terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler terpilih . Anak-anak yang berbeda memiliki kebutuhan berbeda, dan tak ada aturan baku dan cepat mengenai seberapa banyak kegiatan setelah jam sekolah disebut berlebihan. Cari petunjuknya dari anak Anda.

***

Demikian 6 kesalahan yang umum dilakukan para orangtua terhadap anak usia sekolah. Beberapa kesalahan mungkin tak terhindarkan, hal tersebut wajar terjadi, yang terpenting adalah mengenali kesalahan tersebut dan mempelajari cara untuk mengatasinya agar tidak terulang kembali.

(foto: doctor.tappmd.com)