Loading...

5 Upacara Adat di Yogyakarta yang Menarik Ribuan Warga

Penulis: Jatmika H Kusmargana Rubrik: Wisata

TERUSKAN.COM – Tak hanya sebagai kota pariwisata dan kota pendidikan, Yogyakarta juga sering disebut sebagai kota budaya. Sepanjang tahun beragam acara budaya yang kental dengan nilai sejarah dan tradisi digelar di kota Gudeg ini.

Selain menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, acara budaya ini juga kerap menjadi buruan para fotografer amatir hingga professional dari berbagai daerah di nusantara, bahkan hinga luar negeri. Apa sajakah event budaya di Yogyakarta itu?

5 Upacara Adat di Yogyakarta yang Menarik Ribuan Warga

Loading...

Berikut adalah 5 diantaranya yang sayang jika Anda lewatkan:

Upacara Grebeg

Upacara Grebeg merupakan upacara adat yang diadakan tiga kali dalam setahun.

Upacara ini digelar pada tanggal-tanggal yang berkaitan dengan hari besar agama Islam, yakni Grebeg Syawal pada saat hari raya Idul Fitri, Grebeg Maulid pada saat hari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Grebeg Besar pada saat hari raya Idul Adha.

Dalam Upacara Grebeg ini terdapat arak-arakan ratusan prajurit kraton dengan menggunakan pakaian kebesaran prajurit, dan membawa senjata khusus, panji-panji, serta alat musik. Mereka berjalan mengawal Gunungan berupa tumpukan sesaji, makanan yang menyerupai gunung.

Gunungan ini terdiri dari berbagai hasil bumi yang merupakan simbol kemakmuran Keraton Yogyakarta, yang nantinya akan dibagikan kepada rakyatnya.

Dalam perayaan grebeg, terdapat enam jenis gunungan, masing-masing memiliki bentuk yang berbeda dan terdiri dari jenis makanan yang berbeda pula. Gunungan-gunungan ini akan dibawa menuju Alun-alun Utara, Kepatihan/Jalan Malioboro dan Puro Pakualaman dengan iring-iringan prajurit berkuda dan prajurit gajah.

Upacara ini selalu menarik perhatian puluhan ribu warga yang ingin berebut gunungan sebagai sesaji yang dipercaya memiliki berkah.

Saparan Bekakak

Upacara adat Saparan Bekakak merupakan ritual yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I.

Saparan Bekakak dilaksanakan di Desa Ambarketawang, Gamping, Sleman setiap hari Jumat, antara tanggal 10 hingga 20 dalam bulan Sapar (kalender Jawa).

Ritual yang digelar sebagai bentuk permohonan keselamatan warga Gamping ini disebut Saparan Bekakak karena dalam pelengkap upacaranya terdapat sepasang pengantin boneka bekakak yang disembelih sebagai simbol persembahan.

Yang menarik dalam upacara ini, sepasang pengantin bekakak akan diarak menuju tempat penyembelihan yakni Gunung Gamping dan Gunung Kiling.

Dalam arak-arakan itu terdapat sejumlah boneka raksasa berupa ogoh-ogoh, berbentuk setan genderuwo, banaspati, dll yang bertugas mengawal pengantin bekakak. Ritual ini selalu menarik perhatian warga sekitar yang memadati sepanjang rute arak-arakan sepanjang 2 kilometer.

Tradisi Nguras Enceh

Upacara Nguras Enceh atau Mengganti Air Gentong adalah tradisi yang dilakukan pada setiap tanggal 1 Sura khususnya pada hari Jumat Kliwon bertempat di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Bantul.

Terdapat empat gentong yang akan dikuras dalam acara ini. Keempatnya merupakan hadiah dari Kerajaan Palembang, Kerajaan Aceh, Kerajaan Ngerum (Turki), dan Kerajaan Siam (Thailand) kepada Sultan Agung (1613-1645) sebagai penguasa Kerajaan Mataram saat itu sebagai tanda persahabatan.

Sebelum upacara ini digelar, dilakukan Upacara Ngarak Siwur (Siwur = gayung air dari batok kelapa dengan tangkai bambu) dengan arak-arakan prajurit menuju kompleks makan Raja-raja Imogiri. Setelah itu, upacara nguras Enceh dimulai oleh abdi dalem Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta.

Yang menarik air cidukan dari gentong tersebut selalu diperebutkan warga karena dianggap memiliki tuah tertentu.

Tradisi Cupu Panjala

Upacara ini digelar setiap pasaran Kliwon di penghujung musim kemarau pada bulan Ruwah (Kalender Jawa) bertempat di Desa Mendak Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul.

Cupu Panjala adalah tiga buah cupu keramat yang disimpan dalam kotak kayu berukuran kurang lebih 20 x 10 x 7 cm dan dibungkus dengan ratusan lembar kain mori. Ritual ini sebenarnya adalah prosesi pembukaan atau penggantian pembungkus cupu setiap setahun sekali.

Ritual ini dilakukan oleh para abdi dalem Keraton Yogyakarta dengan memakai pakaian adat Jawa yang sebelumnya telah berpuasa terlebih dahulu.

Acara ini selalu menarik minat masyarakat tak hanya dari wilayah Gunungkidul saja, namun juga dari beberapa wilayah lain di pulau Jawa.

Hal itu tidak terlepas dari keyakinan sebagian masyarakat yang mempercayai bahwa gambar yang terlihat dalam lapisan kain mori pembungkus cupu tersebut merupakan ramalan peristiwa setahun ke depan. Baik itu menyangkut keadaan sosial, perekonomian, lingkungan hidup (alam), bahkan dunia politik.

Yang menarik tak jarang dalam setiap pembukaan Cupu Panjala, sering ditemukan beberapa benda seperti jarum, gabah kering, kulit kacang, hingga motif gambar/bentuk menyerupai wayang atau sosok tertentu.

Padahal selama setahun, cupu tersebut disimpan dalam lemari rapat yang tidak boleh dibuka sama sekali.

Jamasan Kereta Pusaka

Upacara atau tradisi Jamasan kereta pusaka Keraton Yogyakarta dilakukan setiap malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon di bulan Suro bertempat di Museum Keraton Yogyakarta Jl. Rotowijayan atau sebelah barat Alun-alun Utara.

Jamasan merupakan ritual untuk merawat dan membersihkan benda-benda pusaka yang dilakukan sejak berabad-abad silam oleh masyarakat Jawa dalam mengisi bulan Suro.

Berbagai macam benda pusaka milik Keraton Yogyakarta seperti kereta, gamelan, maupun pusaka baik keris tombak dsb itu selalu dicuci yang diistilahkan dengan”dijamasi” pada bulan Suro (Muharam) dan selalu pada hari istimewa Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon.

Salah satu prosesi jamasan yang terbuka untuk umum adalah jamasan kereta pusaka Kanjeng Nyai Jimat. Kereta pusaka ini merupakan kereta buatan Portugis tahun 1750-an hadiah dari Gubernur Jenderal Belanda dan menjadi tunggangan utama Sultan HB I – IV.

Yang menarik dalam setiap prosesi jamasan ini ribuan warga dari berbagai daerah selalu berebut air sisa cucian kereta karena percaya air itu memiliki berkah tersendiri. Mereka biasanya akan membawa botol, jeriken, panci, dan gayung untuk menampung air bilasan kereta.

Tak hanya untuk mandi, air itu kerap digunakan masyarakat untuk minum dengan keyakinan akan mendapat kesembuhan penyakit, umur panjang dan sebagainya.