Bagaimana Cara Sel Telinga Memperbarui Dirinya?

Loading...

telingaRegenerasi bagian tubuh manusia adalah kiasan langsung dari film fiksi ilmiah dan buku komik. Tapi, ternyata, itu bukan seluruhnya konsep buatan. Para peneliti telah menemukan bahwa beberapa sel pada telinga manusia – yang disebut “tip link” (tautan ujung) – meregenerasi dirinya untuk menjaga pendengaran Anda tetap tajam.

Telinga dan Tautan Ujung

Telinga mengambil semua suara di sekitar Anda dan kemudian menerjemahkan informasi ini ke dalam bentuk yang bisa dimengerti otak. Salah satu hal yang paling luar biasa tentang proses ini adalah bahwa hal itu benar-benar mekanis.

Indera penciuman, rasa dan visi semuanya melibatkan reaksi kimia, tetapi sistem pendengaran didasarkan pada gerakan fisik, dikutip dari science.howstuffworks.com.

Telinga, sebagai alat sensitif yang menerima rangsangan audio, menerima suara dengan memungkinkan suara untuk mendorong sel-sel sensorik, yang disebut sel-sel rambut, berada di sekitar untuk mengindikasi gangguan. Mendorong sel sensorik memulai riam sinyal kimia yang memungkinkan otak untuk memahami suara yang diterima.

Tautan ujung merupakan bagian dari proses ini – mereka adalah sel konektor, menciptakan hubungan antara sel-sel rambut, yang cukup sensitif untuk memastikan pendengaran yang tajam.

READ:  Teh Terbaik di Musim Dingin

Koneksi ini mudah rusak oleh suara keras, karena sel-sel rambut bisa didorong terlalu jauh ke belakang dengan suara dan ketika ia kembali ke posisi normal, tautan ujung sudah tidak ada lagi untuk menghubungkannya ke sel-sel rambut lainnya.

Tautan ujung sangat rapuh, tapi beregenerasi dalam beberapa hari dan mempertajam pendengaran sekali lagi.

Regenerasi Sel Tautan Ujung

Sebelumnya, hanya sedikit yang diketahui mengenai regenerasi sel tautan ujung. Namun, para peneliti sekarang mengungkapkan tidak hanya komposisinya, tetapi juga mekanisme regenerasinya dan telah diberi label sebagai mekanisme dua langkah.

Dilansir dari Medical Daily, setelah dengan sengaja menyebabkan kerusakan pendengaran pada tikus, para peneliti mengamati dua protein datang bersama-sama untuk kembali menghubungkan sel-sel rambut dan menciptakan tautan ujung sendiri. Protein tersebut adalah cadherin and protocadherin.

Keduanya merupakan protein lengket dan perekat yang menjaga sel-sel rambut bersama-sama sebagai pengganti tautan ujung. Sifat perekat mereka penting – tautan ujung juga merupakan perekat, dan tanpa tautan ujung yang sebenarnya, sel-sel rambut memerlukan beberapa cara untuk saling menempel.

READ:  Tips Menghindari Kerusakan Rambut Akibat Sinar Matahari

Tautan ujung dewasa terbentuk di ujung sel-sel rambut, dan kedua protein mengikat di tempat yang sama, menunjukkan bahwa mereka bertanggung jawab untuk mendewasakan koneksi tautan ujung.

Temuan penting dalam studi ini adalah bahwa tautan ujung terdiri dari cadherin dan protocadherin. Ini membuktikan mekanisme regenerasi tautan ujung. Dalam kondisi eksperimental, jika hanya protocadherin yang ditambahkan ke sel-sel rambut dengan tautan ujung rusak, ia hanya akan mengikat dasar sel, bukan ujung pada tempatnya.

Pada akhir hari kelima, ketika tautan ujung biasanya bereformasi, tidak ada regenerasi.

Pengobatan Gangguan Pendengaran

Meskipun studi ini cukup padat dengan data ilmiah, memiliki implikasi praktis yang sangat jelas: dengan menemukan bagaimana regenerasi tautan ujung, peneliti tidak berada jauh dalam mencari tahu bagaimana orang-orang dengan gangguan pendengaran turun-temurun, atau orang-orang yang bekerja di industri bising, seperti konstruksi, bisa mendapatkan kembali pendengaran mereka.

Banyak gangguan pendengaran yang dikaitkan dengan hilangnya tautan ujung bukan sel-sel rambut (sel-sel rambut jauh lebih kuat dibanding tautan ujung).

READ:  Gejala dan Perawatan Infeksi Pada Telinga

Jika para ilmuwan bisa mengetahui bagaimana memanfaatkan dua protein yang dibutuhkan untuk regenerasi tautan ujung, mereka mungkin dapat dengan cepat dan efektif meregenerasi gangguan pendengaran pasien. Sementara uji klinis belum dilakukan, temuan ini menjanjikan bagi tuna rungu.

(foto: saintthomashealth.com)