Memahami Lebih Dalam Seputar Autisme

Loading...

mengenal AutismeApa itu Autisme?

Sebutan autisme baru ditemukan pada abad ke-20 dan kini menyerang 3-4 dari 1.000 anak di usia 3-10 tahun. Penelitian di tahun 2009 menemukan bahwa 1 dari 110 anak kini beresiko menderita Autisme. Autisme dikategorikan sebagai Gangguan Mental yang dapat didiagnosis dan diukur.

Gangguan ini ditandai dengan tingkat yang berbeda dalam hal: ketidakmampuan berkomunikasi, ketidakmampuan interaksi sosial dan kecenderungan melakukan tindakan tidak lazim yang berulang-ulang.

Kondisi Para Penderita Autisme

  • Masalah Panca Indera. Bila umumnya manusia dapat belajar dari apa yang mereka lihat, dengar dan sentuh, seseorang yang menderita autisme justru akan merasa sakit saat mendengar suara tertentu, menyentuh sesuatu atau melihat sesuatu. Bagi penderita autisme, terdapat ketidakseimbangan antara otak dan panca indera mereka yang membuat tubuh menerima respon secara berbeda
  • Keterbelakangan Intelegensi. Dalam beberapa hal (misal: olahraga, seni), para penderita autisme dapat berprestasi layaknya mereka yang normal tetapi mereka cenderung mendapatkan nilai yang rendah dalam bidang bahasa.
  • Kejang. Bagi kebanyakan penderita autisme, mereka memiliki kerusakan syaraf yang menyebabkan mereka sering melakukan perilaku yang tidak wajar, berbicara yang tidak biasa atau bahkan kejang. Bisa saja kejang terjadi karena kelelahan, kurang tidur atau demam tinggi.
READ:  Benarkah Autisme Dimulai Jauh Sebelum Kelahiran?

Bagaimana Autisme Didiagnosa?

Semakin cepat gejala autisme dikenali, maka akan semakin baik. Gejala autisme dapat dilihat sebelum usia 3 tahun, umumnya dari 3 sisi yaitu: komunikasi yang lamban, tidak mampu sosialisasi dan perilaku tak lazim yang berulang.

Oleh sebab itu, ada beberapa tahapan autisme yang bisa dilakukan, yakni:

1. Screening Tahap Awal. Pada tahap ini, pengawasan orang tua sangat dibutuhkan. Ketika aAnak tumbuh dan mulai menginjak usia 2 tahun sementara Anda merasa bahwa pertumbuhan anak Anda sangat lamban seperti tidak mampu mengucapkan sepatah kata, tidak bereaksi saat dipanggil namanya atau ketidakmampuan menatap wajah Anda dan melakukan interaksi.

Bawalah anak Anda ke dokter atau terapis untuk mendapatkan rangkaian tes dini. Mungkin Anda juga perlu memvideokan aktivitas anak Anda atau membuat catatan aktivitas Anak Anda sehari-hari.

2. Evaluasi Autisme. Pada tahap lanjutan diagnosa ini, diperlukan satu tim yang terdiri dari psikolog, psikiater, ahli terapi wicara dan neurologis. Pasien yang didiagnosa autisme akan mendapatkan evaluasi secara menyeluruh dari semua aspek.

READ:  Panduan Membeli Produk Kecantikan Alami

Secara simultan para ahli akan melakukan serangkaian tes dan terapi untuk mengajarkan para penderita autisme bagaimana mengendalikan gerakan tubuh mereka, adaptasi pada perubahan, melakukan percakapan, melatih fokus pendengaran dan melakukan interaksi sosial.

Tindakan Bagi Penderita Autisme

Ada banyak sekali terapi yang dapat dilakukan bagi para penderita autisme, misalnya terapi dengan memanggil terapis datang ke rumah, pijatan di tubuh, serangkaian obat-obatan, rangsangan bermain, berenang, atau dengan beragam terapi lainnya.

Sebelum Anda memutuskan untuk memilih terapi bagi anak Anda, pikirkanlah beberapa hal seperti : apakah treatment tersebut akan menyakiti anak Anda? Seberapa persen kemungkinan berhasil atau gagal? Apakah terapi tersebut sudah diuji secara resmi?

Obat Bagi Penderita Autisme

Obat-obatan kerapkali diberikan kepada penderita autisme yang mengalami gangguan pada tubuh mereka seperti: tidak bisa diam, melukai diri sendiri atau kejang.

Obat-obatan ditujukan untuk menjaga tubuh dan emosi penderita autisme tetap stabil saat mereka berkegiatan atau bersekolah. Contoh obat bagi penderita autisme adalah: Antipsychotic, Carbamazepine dan Methylphenidate.

READ:  Posisi Tidur yang Tepat Untuk Mengatasi Nyeri Punggung

(foto: mychildwithoutlimits.org)