5 Alasan Menginap di Hanok Saat Mengunjungi Korea

Loading...

5 Alasan Menginap di Hanok Saat Mengunjungi KoreaSeperti sebagian besar negara, yang memiliki rumah dengan gaya khas dan arsitektur mereka sendiri, Korea mengkhususkan diri dalam membuat rumah dan arsitektur dengan gaya unik yang dinamakan sebagai hanok.

Hanok, rumah tradisional Korea, merupakan hunian ramah lingkungan karena dibangun dengan menggunakan material dari alam, seperti kayu, tanah, batu, jerami, tanah liat, dan kertas. Dua jenis utama dari hanok ialah giwajip (rumah dengan atap ubin) yang ditempati oleh kaum bangsawan dan chogajip (rumah dengan atap jerami) yang dihuni oleh kaum tani. Perbedaan yang paling menonjol antara keduanya terletak pada atapnya.

Segala sesuatu tentang hanok, dari bentuk kolom, bentuk atap, hingga arsitektur dapur – tak satu pun tanpa alasan, hanok adalah akibat langsung dari kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan nenek moyang mereka. Dan tentu saja, jika Anda tinggal di sana, Anda akan selalu memiliki cerita sendiri.

Nah, berikut adalah 5 alasan mengapa Anda harus mencoba menginap di hanok saat berkunjung ke Korea, dilansir dari CNN Travel:

1. Memanfaatkan Alam

Traveler urban biasanya menemukan diri mereka terjebak dalam kamar yang terlalu panas di musim dingin dan membeku di bawah semburan AC di musim panas. Dengan hanok, tidak ada paradoks musiman seperti ini. Rahasianya terletak pada arsitekturnya.

READ:  8 Perlengkapan Bayi yang Perlu Dibawa Saat Bepergian

Atapnya, yang bertindak sebagai naungan dari matahari di musim panas, berperan lebih dari sekedar sebagai payung pantai.

Selain itu, hanok juga ditandai dengan lantai ganda, ondol dan maru. Ondol adalah lantai batu untuk musim dingin, dipanaskan dari bawah oleh api dalam sistem pemanas yang unik. Maru merupakan lantai kayu yang berpori dan menyejukkan di musim panas.

2. Material Primer

Bahan utama yang digunakan untuk membangun hanok adalah kayu dan tanah liat. Bahkan bangunan terindah sekalipun, seperti kediaman tokoh sarjana Joseon, Lee Eon-Jeok, dan sekarang menjadi bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO (Desa Yangdong) serta National Treasure No. 412 – hanok pada dasarnya terdiri dari batu, kayu, lumpur dan kertas. Semua bahan-bahannya ‘biodegradable,’ dapat diurai oleh bakteri atau organisme hidup lainnya.

3. Hwangto

Lantai, dinding dan atap hanok juga menggunakan tanah liat. Dan bukan sembarang tanah liat, namun tanah liat emas (hwangto), atau “tanah liat merah,” jika kita merujuk pada terjemahan literalnya.

READ:  Tradisi Korea yang Perlu Anda Tahu

Selain memiliki manfaat pemanasan dan pendinginan, kedekatan hwangto dengan warga juga diyakini bermanfaat bagi kesehatan mereka.

Hwangto dikenal memiliki sifat memurnikan dan detoksifikasi, serta memancarkan sinar inframerah jauh. Mungkin terdengar tabu bagi mereka yang biasanya bergantung pada pil vitamin dan obat-obatan tanpa resep, tapi faktanya ada banyak produk hwangto dengan berbagai manfaat kesehatan.

4. Hanji

Salah satu daya tarik hanok ialah panel kertas. Pintu dan jendela hanok dibungkus dengan hanji, kertas tradisional Korea. Tidak seperti kertas tisu, hanji lebih solid dan berserat. Menempel pada bingkai jendela, hanji bertindak sebagai filter alami yang sangat baik, membiarkan udara dalam ruangan tetap bersih dan menjaga tingkat kelembaban yang tepat.

Hanji tidak hanya menggantikan kaca pada panel jendela modern, tetapi juga tirai: memiliki sifat semi-transparan, memberikan suasana pencahayaan yang sangat baik.

5. Privasi

Hanok tradisional selalu terdiri dari beberapa bangunan terpisah yang kompleks, berkumpul bersama di sekitar halaman dengan dinding mengelilingi gugusan.

Halaman, fitur penting lain dari hanok, adalah ruang yang memisahkan kamar dan sekaligus bertindak sebagai jantung komunal.

READ:  5 Alasan Liburan ke Jogjakarta

Panel kertas tipis pada jendela dan pintu, serta halaman (madang) di tengah-tengahnya, mungkin memberikan jeda, pemisahan hanok menjadi beberapa struktur diskrit memiliki beberapa konsekuensi penting.

Struktur dari hanok tradisional dibagi berdasarkan posisi dalam hirarki – sarangchae untuk pria dan anchae untuk wanita, sementara para pelayan memiliki sebuah rumah kecil dengan pintu depan.

Tapi untuk traveler – entah itu melakukan perjalanan sendirian, dengan keluarga atau bersama pasangan – pembagian hanok yang tertata berarti memiliki ruang untuk melakukan segala macam kegiatan secara pribadi.