Efek Samping Detoksifikasi Kecanduan Narkoba

Loading...

DetoksifikasiDetoksifikasi kecanduan narkoba

Tujuan terapi penarikan (detoksifikasi) bagi pecandu narkoba adalah untuk berhenti mengambil obat adiktif secepat dan seaman mungkin. Detoksifikasi mungkin melibatkan pengurangan dosis obat secara bertahap atau mengganti sementara zat lain, seperti metadon, yang memiliki efek samping yang tidak begitu parah. Bagi sebagian orang, mungkin aman untuk menjalani terapi penarikan dengan rawat jalan, yang lainnya mungkin harus menjalaninya di rumah sakit atau pusat perawatan.

Detoksifikasi dari berbagai kategori obat menghasilkan efek samping yang berbeda dan membutuhkan pendekatan yang berbeda. Berikut kami paparkan, disadur dari mayoclinic.com.

– Depresan (termasuk barbiturat, benzodiazepin dan lain-lain).

Efek samping minor detoksifikasi mungkin termasuk kegelisahan, kecemasan, masalah tidur dan berkeringat. Tanda dan gejala yang lebih serius juga bisa termasuk halusinasi, seluruh tubuh gemetaran, kejang, dan meningkatnya tekanan darah, denyut jantung dan suhu tubuh. Terapi penarikan mungkin melibatkan penimbangan kembali jumlah obat secara bertahap, menambahkan obat lain untuk membantu menstabilkan sel-sel saraf selama detoksifikasi atau keduanya.

READ:  8 Kiat Sederhana Mengeluarkan Racun Dari Tubuh

– Stimulan (termasuk amphetamin, methamphetamine, kokain, Ritalin dan lain-lain).

Efek samping dari penarikan biasanya mencakup depresi, kelelahan, kecemasan dan keinginan intens. Dalam beberapa kasus, tanda-tanda dan gejala mungkin termasuk pikiran dan percobaan bunuh, paranoia, dan penurunan kontak dengan realitas (psikosis akut). Pengobatan selama penarikan biasanya terbatas pada dukungan emosional dari keluarga, teman dan dokter. Dokter mungkin merekomendasikan obat untuk mengobati psikosis paranoid atau depresi.

– Opioid (termasuk heroin, morfin, kodein, OxyContin dan lain-lain).

Efek samping penarikan opioid dapat berkisar dari yang relatif ringan sampai yang parah. Pada minor, mereka mungkin termasuk pilek, berkeringat, menguap, kecemasan dan keinginan terhadap obat. Reaksi parah dapat termasuk sulit tidur, depresi, pupil melebar, nadi cepat, pernapasan cepat, tekanan darah tinggi, kram perut, gemetaran, nyeri tulang dan otot, muntah, dan diare. Dokter dapat menggantikan dengan opiat buatan, seperti metadon atau buprenorfin (Subutex, dan lainnya), untuk mengurangi keinginan untuk heroin selama pemulihan.

(photo: blog.palmpartners.com)